Senin, 08 September 2008

COOPERATIVE LEARNING

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
Keberhasilan suatu proses pendidikan dan proses pembelajaran yang dilakukan oleh para guru akan terlihat dari kecakapan maupun keterampilan yang dimiliki siswa, sebagai hasil dari proses pendidikan yang telah diterima. Sebagai contoh suatu keterampilan dalam berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung, sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, namun masih menggunakan tanda-tanda tertentu. Cara berkomunikasi seperti itu semakin berkembang seiring dengan kemajuan dan perkembangan kebudayaan dan peradaban.
Manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan dua jenis bahasa yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Sehubungan dengan komunikasi lisan, manusia dituntut mampu berbicara dan menyimak (mendengarkan). Sementara itu, untuk dapat berkomunikasi secara tulis, manusia dituntut untuk mampu membaca dan menulis, dengan demikian sebagaimana dikatakan Nababan (1987 : 5), bahwa manusia telah memiliki empat kemampuan berbahasa, yakni; berbicara, mendengarkan, manulis, dan membaca. Kemampuan berbicara adalah kemampuan berkomunikasi lisan yang bersifat produktif (pelahiran). Mendengarkan adalah kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara tertulis yang bersifat produktif. Adapun membaca adalah kemampuan berkomunikasi secara tertulis yang bersifat pasif (reseptif).
Sementara itu gambaran penutur ideal sangat penting artinya bila dikaitkan dengan kedudukan bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai identitas bangsa, lambang kebanggaan bangsa, alat komunikasi antar daerah yang berbeda latar belakang sosial budayanya, dan sebagai alat pemersatu suku-suku bangsa yang ada di seluruh nusantara ini. Adapun sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, sebagai resmi dalam berhubungan tingkat nasional, bahasa pengantar resmi dalam pendidikan dan bahasa resmi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan (Halim, 1992 : 18).
Oleh karena itu pembinaan keempat keterampilan berbahasa, yaitu; berbicara, menyimak, menulis, dan membaca, baik di sekolah maupun di masyarakat dapat dipahami sebagai suatu yang sangat penting.
Keberhasilan pembinaan keempat keterampilan berbahasa tersebut di sekolah merupakan tugas penting pengajar bahasa Indonesia. Untuk tujuan itulah sejak akhir tahun 1980-an, telah ditetapkan dan diberlakukan pelaksanaan kurikulum yang berdasarkan pendekatan komunikatif.
Pendekatan komunikatif adalah sutau pendekatan yang beroreintasi pada kopetensi komunikatif. Pendekatan itu bisa pula disebut dengan istilah pendekatan pragmatik, sedangkan yang menjadi orientasi disebut dengan istilah kopetensi pragmatik. Istilah pendekatan komunikatif menitikberatkan pada terjadinya komunikasi antar penutur dan penanggap, yang ditandai kesatu pahaman isi komunikasi antar keduanya. Sedangkan pendekatan pragmatik menitikberatkan pada kesesuaian, kecocokan atau ketepatan bentuk-bentuk bahasa yang dipilih dalam komunikasi diukur dengan sejumlah faktor, seperti; penutur, penanggap, topik jenis bahasa, latar, situasi, dan sebagainya. Dengan demikian, kopetensi komunikatif adalah kumpulan kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat berkomunikasi secara komunikatif, termasuk di dalamnya kopetensi pragmatik, yakni kopetensi gramatikal, kopetensi kewacanaan dan kopetensi pragmatik. Kopetensi gramatikal berkenaan dengan kemampuan bahasawan menguasai kaidah-kaidah kebahasaan. Kopetensi kewacaan berkenaan dengan kemampuan mengorganisasi jalan pikiran wacana. Adapun kopetensi pragmatik berkenaan dengan kemampuan bahasawan menyesuaikan unsur-unsur bahasa dengan unsur-unsur konteks (Tarigan, 1988 : 24).
Dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 20/V/1994 tentang resensi berlakunya kurikulum 1994 dan dianjurkan untuk memakai system pendekatan keterampilan proses dengan konsep CBSA, juga berlandaskan pada GBHN RI 1999 dan 2004.
Di lapangan telah banyak model pendekatan mengajar yang telah dilakukan oleh guru, misalnya; pendekatan keterampilan, cooperative learning, pendekatan konsep dan sebagainya yang semuanya mengacu pada konsep CBSA.
Teori JIGSAW ini tidak terlepas dari karakteristik pembelajaran dimana terdapat pendekatan system atau seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas, mencakup satu satuan bahasan yang utuh sebagai pendukung tercapainya kopetensi tertentu.
Dipilihnya teori JIGSAW karena teori ini lebih menekankan pada keterampilan proses, banyak latihan pada setiap pertemuan, sehingga dapat membantu siswa bila ada kesulitan dalam menerima materi pelajaran. Pemberian latihan terus-menerus dapat membantu pendalaman siswa terhadap materi pelajaran, teori ini juga melatih siswa berani mengutarakan pendapat yang dimiliki sehingga konsep yang mereka kuasai akan semakin matang.
Dari kelebihan teori JIGSAW ini maka penulis mencoba mengembangkan sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki hasil yang kurang optimal dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP Negeri 2 Kota Mojokerto, khususnya kelas 8A. Dipilihnya kelas tersebut disertai dengan alasan, yaitu sebuah anggapan bahwa mereka telah memiliki kemampuan berbicara.


1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan uraian di atas masalah berbicara pada siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut;
“Apakah proses belajar mengajar dengan menggunakan strategi cooperative learning yang dipandu dengan teknik JIGSAW dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa pada pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009.”
1.3 Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran peranan teori JIGSAW dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini mengetahui kemampuan berbahasa dalam hal;
1. Kemampuan memilih kata (diksi) dalam berbicara;
2. Kemampuan menyusun kalimat;
3. Kemampuan menggunakan intonasi;
4. Kelancaran dalam beribicara; dan
5. Keberanian dalam berbicara.

1.4 Manfaat Penelitian
a. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi guru dan sekolah untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa tingkat SMP;
b. Guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia, terutama dalam mengajar berbicara dalam hal ini memiliki diksi, menyusun kalimat, menggunakan intonasi, kelancaran, dan keberanian;
c. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan sebagai salah satu model dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar bahasa dan sastra Indonesia di SMP; dan
d. Sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.
1.5 Pentingnya Masalah untuk Diteliti
Proses belajar mengajar dengan menggunakan strategi cooperative learning yang dipandu dengan JIGSAW memiliki tujuan;
a. Mendidik siswa yang bersikap ilmiah, mandiri, dan sanggup menganalisa fakta-fakta yang telah ada dan yang telah dikenalkan sebelumnya untuk memecahkan masalah;
b. Mendidik siswa untuk dapat hidup bersosial; dan
c. Mendidik keberanian dalam mengemukakan pendapat dan sebaliknya juga dapat menerima pendapat teman-temannya.
Jadi dengan model pembelajaran teori JIGSAW diharapkan dapat melibatkan mental intelktual, emosional, dan motorik siswa yang lebih dibanding dengan siswa yang jarang melakukannya.
1.6 Definisi
Agar tidak terjadi salah tafsir terhadap maksud penelitian, maka diberikan batasan istilah yang ada dalam permasalahan sebagai berikut;
a. Penerapan
Menurut bahasa Indonesia, kata penerapan dapat diartikan pengenaan; perihal mempraktekkan JIGSAW dalam kegiatan pembelajaran.
b. Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar adalah proses interaksi antara guru dan siswa atau interaksi siswa dengan siswa yang pelaksanaannya secara sengaja dan
terorganisasi dengan maksud untuk memperoleh hasil belajar yang optimal.
c. Proses Pembelajaran dengan Menggunakan Teori JIGSAW
Pada penelitian ini dibatasi pada pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP untuk pokok bahasan berbicara.
d. Kemampuan
Yang dimaksud dengan kemampuan adalah suatu kecakapan yang dimiliki siswa dalam melakukan aktivitas berbicara.


e. Berbicara
Berbicara adalah suatu aktivitas berbahasa dengan menggunakan lambang-lambang lingual serta gerak-gerik tertentu untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, ide, dan kemauan.
f. Kemampuan Berbicara dalam Berbahasa Indonesia
Yang dimaksud dengan kemampuan berbicara dalam berbahasa Indonesia adalah kemampuan mengekspresikan pikiran, perasaan, ide, kemauan, dengan menggunakan lambang-lambang lingual bahasa Indonesia ragam baku.


BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini berupa Penelitian Tindakan Kelas, penelitian berangkat dari permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran di kelas. Permasalahan itu bisa dialami siswa dan bisa dialami guru itu sendiri. Kesulitan yang dialami siswa misalnya siswa sulit menerima atau mempelajari bahan ajar tertentu. Kesulitan-kesulitan tersebut dipelajari oleh guru, dicermati dan ditemukan sebagai penyebabnya. Untuk selanjutnya ditemukan bentuk pemecahannya.
Bentuk pemecahnnya tersebut berupa langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan strategi tertentu yang diyakini dapat mengatasi masalah tersebut yang dikemas dalam “Rancangan Pembelajaran”. Dengan demikian penelitian ini menitikberatkan pada permasalahan yang sedang dihadapi siswa sekaligus menemukan bentuk pemecahnnya untuk mendapatkan proses dan hasil pembelajaran yang lebih baik.
Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Pemilihan rancangan ini, sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Rancangan deskriptif mempunyai beberapa karakteristik yaitu; 1) untuk memperoleh informasi aktual atau yang terjadi pada saat penelitian dilakukan, dan 2) bertujuan untuk melukiskan veriabel apa adanya dalam suatu situasi (Furchan, 1982 : 415).
2.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan. Penelitian ini diarahkan untuk menetapkan sifat suatu situasi pada waktu penelitian itu dilakukan (Furchan, 1982 : 52). Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menuturkan dan menafsirkan data yang ada, pandangan, sikap, yang tampak atau proses yang sedang berlangsung (Sujana, 1988 : 52)
Metode adalah cara utama yang digunakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tujuan penelitian adalah untuk memecahkan masalah, maka langkah-langkah yang ditempuh telah dirumuskan. Perumusan masalahnya sendiri hendaknya jelas tentang aspek-aspek yang akan digunakan. Metode deskriptif merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya (Nawawi, 1990 : 63). Dengan kata lain, metode deskriptif merupakan langkah-langkah melakukan representatif tentang gejala-gejala yang terdapat di dalam yang diselidiki.
2.2 Penentuan Populasi dan Sampel
a. Populasi
populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang dapat berupa manusia, benda, gejala-gejala, peristiwa, pola hidup, dan sebagainya yang menjadi obyek penelitian. Dapat disimpulkan bahwa populasi adalah semua anggota kelompok manusia atau individu, yang merupakan obyek dari suatu penelitian. Populasi harus dibatasi secara tegas dan jelas, sebab ketidakpastian atau kekaburan terhadap batas-batas dari ciri-ciri populasi, akan mengaburkan terhadap obyek yang sedang diteliti.
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil populasi sebagai daerah penelitian yaitu Siswa Kelas 8 SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009. Dengan jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 280 siswa, yang tersebar dalam 7 kelas yaitu kelas 8A sampai dengan 8G masing-masing kelas sebanyak 40 siswa.
c. Sampel
Sampel adalah sejumlah kecil individu-individu sebagai contoh dari populasi yang memiliki ciri-ciri penanda yang sama atau relatif sama dengan populasi yang dijadikan obyek penelitian. Sampel juga dapat diartikan sebagaian yang diambil dan keseluruhan dari obyek yang sedang diteliti, yang mewakili seluruh populasi dengan memakai atau menggunakan teknik tertentu.
Syarat utama dalam mengambil sampel, yaitu sampel harus dapat mewakili populasi. Adapun teknik yang digunakan dalam menentukan sampel adalah teknik purposive sampling. Pendapat Sutrisno Hadi tentang teknik purposive sampling, adalah;
Dalam purposive sampling, pemilihan sekelompok obyek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat tertentu yang dipandang mampunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya. (Sutrisno Hadi, 1987 : 82).

Berdasarkan uraian di atas, tidak semua kelas 8 dijadikan sampel. Maka penelitian mengambil sampel penelitian yaitu Siswa Kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009, karena kelas tersebut dianggap mampu mewakili populasi yaitu mewakili seluruh siswa kelas 8.
2.3 Rancangan dan Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan 2 (dua) kali siklus, dengan tiap siklus terdari dari;
a. Rancangan;
b. Kegiatan dan Pengamatan;
c. Refleksi; dan
d. Revisi Rancangan.
a. Siklus I
1. Rancangan
a. Sasaran penelitian
Sasaran penelitian ini adalah Kelas 8A Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2008/2009 di SMP Negeri 2 Kota Mojokerto pada pokok bahasan berbicara.

b. Instrumen penelitian ini terdiri dari;
1. Satuan pelajaran
Digunakan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah direncanakan tiap pokok bahasan (terlampir).
2. Lembar observasi (membuka, menyajikan materi, dan menutup oleh guru)
2. Kegiatan dan Pengamatan
Selama Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung terdapat beberapa kegiatan sesuai dengan teknik JIGSAW sebagai berikut;
a. Kelebihan;
b. Mengelompokkan untuk menyelesaikan soal;
c. Umpan balik (hasil penilaian proses/postes);
d. Umpan lanjut (terbatas pada bagian yang belum jelas); dan
e. Pengamatan.
3. Refleksi
Dalam pelaksanaan proses Kegiatan Belajar Mengajar diperoleh hasil pengamatan dengan kelebihan dan kekurangan sebagai berikut;
a. Kelebihan
1. Metode mengajar yang digunakan baik;
2. Menyajikan materi secara sistematis;
3. Menggunakan media dengan tepat;
4. Memberi motivasi yang baik; dan
5. Penampilan guru baik.
b. Kekurangan
1. Perhatikan kepada siswa kurang merata;
2. Alokasi waktu yang sudah terprogram kurang ditepati;
4. Revisi Rancangan
Dari refleksi siklus I diperlukan adanya revisi rancangan sebagai berikut;
a. Pada penyajian materi lebih banyak memberikan motivasi dan contoh dalam kehidupan sehari-hari;
b. Alokasi waktu sudah terencana harus ditepati; dan
c. Dari hasil siklus I perlu guru adanya persiapan yang lebih mantang sehingga rancangan yang telah dibuat bisa ditepati.
b. Siklus II
1. Rancangan
2. Kegiatan dan pengamatan
a. Refleksi dan ovientasi;
b. Latihan;
c. Umpan balik;
d. Tindak lanjut; dan
e. Pengamatan.
3. Refleksi
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar hasil pengamatan yang kelebihan dan kekurangan sebagai berikut;
a. Kelebihan
1. Penggunaan metode dan pemberian motivasi baik;
2. Materi yang diberikan secara sistematis dan mudah dimengerti;
3. Media yang digunakan tepat dan lengkap;
4. Penampilan guru baik; dan
5. Nilai yang diperoleh siswa baik.
b. Kekurangan
1. Waktu yang digunakan Tanya jawab kurang; dan
2. Waktu yang digunakan tindak lanjut kurang.
4. Revisi rancangan
Dari hasil siklus II diperlukan adanya revisi rancangan sebagai berikut;
a. Pemberian remidi pada siswa diberikan waktu tersendiri; dan
b. Pelaksanaan tindak lanjut pada siswa diberikan waktu yang cukup.
2.4 Data dan Instrumen Penelitian
Data adalah hasil pencatatan penelitian baik yang berupa fakta atau angka dari sumber Surat Keterangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0259/U/1997, tanggal 11 Juli 1997 disebutkan segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan (Arikunto, 1993 : 91).
Dalam kamus besar bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh Depdikbud (1995 : 211) dinyatakan data adalah; 1) keterangan yang benar dan nyata, dan 2) keterangan bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis kesimpulan).
Berdasarkan tujuan khusus penelitian, sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah berupa skor atau nilai dari setiap aspek kemampuan berbicara secara operasional data tersebut meliputi;
a. Data kemampuan memilih kata dalam berbicara;
b. Data tentang kemampuan menyusun kalimat dalam berbicara;
c. Data tentang kemampuan menggunakan intonasi dalam berbicara;
d. Data tentang kelancaran dalam berbicara; dan
e. Data tentang keberanian dalam berbicara.
Data ini untuk setiap aspek keterampilan berbicara terdiri atas satu buah. Dengan demikian, karena terdapat lima aspek yang dinilai, maka untuk setiap siswa populasi diperlukan lima lembar data. Kelima lembar data itu meliputi, yaitu:
a. lembar penilaian aspek kosakata;
b. lembar penilaian aspek kalimat;
c. lembar penilaian aspek intonasi;
d. lembar penilaian aspek kelancaran; dan
e. lembar penilaian aspek keberanian.
Pengisian lembar penilaian keterampilan berbicara aspektual individual tersebut sepenuhnya dilakukan oleh individu. Lembar data diisi oleh peneliti pada saat siswa melakukan praktik pidato. Sebuah tampilan pidato dari setiap siswa populasi secara langsung dihadapkan pada lima lembar penilaian aspektual. Disini peneliti mencatat kelebihan dan kelemahan setiap tampilan dari aspek penilaian keterampilan berbicara sekaligus memberi skor untuk setiap aspek itu. Penetapan kelemahan dan kelebihan serta pemberian catatan-catatan tersebut disesuaikan dengan pernyataan-pernyataan pemandu yang telah ditetapkan. Akhirnya data keterampilan berbicara dari setiap siswa populasi berupa jumlah skor dari kelima aspek penilaian keterampilan berbicara.
2.5 Instrumen Penelitian
Instrumen sebagai alat yang dapat digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian. Penentuan instrumen disesuaikan dengan tujuan khusus penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen yang berbentuk subyeksitas atau berbicara (kosakata, kalimat, intonasi, kelancaran, dan keberanian). Instrumen penelitian ini telah diujicobakan dengan maksud untuk memperoleh kevaliditasan dalam memenuhi aspek komunikatif. Tes berbicara atau berpidato (kosakata, kalimat, intonasi, kelancaran, dan keberanian), merupakan cara yang dianggap cocok untuk mengukur kemampuan wicara siswa. Hal tersebut dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mewujudkannya dalam menata materi bahasa, menggunakan kosakata, kalimat, intonasi, kelancaran, keberanian, serta mengomunikasikannya kepada orang lain secara lisan.
Sesuai dengan data yang diperlukan dari lapangan, maka instrumen penyaringan data dalam penelitian ini meliputi;
a. judul dan gambar sebagai pancingan gagasan berpidato,
b. lembar penilaian keterampilan berbicara aspektual individu,
c. pertanyaan-pertanyaan pemandu individual, dan
d. diri peneliti sendiri sebagai penilai.
2.6 Teknik Analisa Data
Dalam menyaring data kemampuan berbicara, teknik yang digunakan adalah teknik praktik berpidato. Hal ini disebabkan oleh tujuan yang ingin diketahui yaitu kemampuan berbicara (berpidato) secara individual. Teknik ini dilakukan dengan menyuruh siswa didepan kelas, yang bersamaan dengan itu diikuti penilaian oleh peneliti. Langkah yang ditempuh untuk mencapai ketepatan teknik yang digunakan, yaitu
a. Sebelum menyelenggarakan tes, peneliti berusaha membuat suasana akrab dengan siswa populasi untuk menghindari aspek-aspek non teknis yang dapat mempengaruhi ketepatan hasil berbicara, misalnya ketakutan;
b. Peneliti menjelaskan beberapa hal berkaitan dengan tes ini;
c. Menyuruh setiap siswa berpidato dihadapan teman-temannya masing-masing 10 menit; dan sekaligus member penilaian yang didasarkan panduan penilaian berupa pertanyaan-pertanyaan yang dalam pembuatannya didasarkan pada pemikiran teoritis keterampilan berbicara.
Sehubungan dengan teknik penganalisaan data, peneliti ini menggunakan prosedur sebagai berikut;
a. Mengelompokkan data sesuai dengan aspek kemampuan yang diteliti yaitu (kosakata, kalimat, intonasi, kelancaran, dan keberanian);
b. Menghitung siswa yang mendapat kualifikasi baik sekali, baik, cukup, dan kurang, dan
c. Menghitung prosentase siswa yang mendapat kualitas seperti pada butir b dengan rumus;
F
P = x 100%
N
P = Prosentase siswa yang mendapat kualitas tertentu
F = Jumlah nilai perolehan
N = Jumlah siswa
Pada akhir Kegiatan Belajar Mengajar diharapkan hasil belajar siswa dapat tercapai dengan baik dan optimal. Yaitu secara klasikal lebih dari 50% seluruh siswa yang dikenai tindakan memperoleh nilai minimal 75.
Data pengamatan Kegiatan Belajar Mengajar dan hasil belajar dianalisa menurut Sanafiah, dkk (1992), sebagai berikut;
90 – 100 = Baik sekali
75 – 89 = Baik
60 – 74 = Cukup
40 – 59 = Kurang


BAB III
HASIL PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian bersiklus yang dilaksanakan pada Siswa Kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009 dengan jumlah 40 siswa.
3.1 Siklus I
Hasil pengamatan ini dapat diperoleh dari tabel berbicara siswa kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009 berdasarkan kualifikasi tiap aspek pada siklus I, sebagai berikut;
Kualifikasi
Aspek
Jumlah
1
2
3
4
5
Baik Sekali
-
-
-
-
-
-
Baik
15
13
10
14
18
59
Cukup
20
18
18
15
19
85
Kurang
5
9
12
11
13
55
Keterangan;
1. Kosakata
2. Kalimat
3. Intonasi
4. Kelancaran
5. Keberanian
Hasil pengamatan ini dapat diperoleh dari tabel berbicara siswa kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009 berdasarkan prosentase kualifikasi tiap aspek pada siklus I, sebagai berikut;
kualifikasi
Aspek
Rata-rata %
1
2
3
4
5
F
%
F
%
F
%
F
%
F
%
B. Sekali
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Baik
15
37.5
13
32.5
10
25
14
35
8
20
30
Cukup
20
50
18
45
18
45
15
37.5
19
47.5
45
Kurang
5
12.5
9
22.5
12
30
11
27.5
13
32.5
25

Keterangan;
1. Kosakata
2. Kalimat
3. Intonasi
4. Kelancaran
5. Keberanian


Hasil yang dicapai pada siklus I, berdasarkan tabel di atas. Kemampuan berbicara Siswa Kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009 dapat diartikan sebagai berikut;
1. Tidak ada seorang pun siswa yang memperoleh kualitas baik sekali;
2. Secara rata-rata terdapat 30% yang memperoleh kualitas baik, dengan rincian aspek-aspek penilaian, sebagai berikut;
a. Aspek kosakata sebesar 37,5% atau 15 siswa;
b. Aspek kalimat sebesar 50% atau 20 siswa;
c. Aspek intonasi sebesar 25% atau 10 siswa;
d. Aspek kelancaran sebesar 35% atau 14 siswa; dan
e. Aspek keberanian sebesar 20% atau 8 siswa.
3. Secara rata-rata terdapat 45% yang memperoleh kualitas cukup, dengan rincian aspek-aspek penilaian, sebagai berikut;
a. Aspek kosakata sebesar 50% atau 20 siswa;
b. Aspek kalimat sebesar 45% atau 18 siswa;
c. Aspek intonasi sebesar 45% atau 18 siswa;
d. Aspek kelancaran sebesar 37,5% atau 15 siswa; dan
e. Aspek keberanian sebesar 47,5% atau 19 siswa.



4. Secara rata-rata terdapat 25% yang memperoleh kualitas kurang, dengan rincian aspek-aspek penilian, sebagai berikut;
1. Aspek kosakata sebesar 12,5% atau 5 siswa;
2. Aspek kalimat sebesar 22,5% atau 9 siswa;
3. Aspek intonasi sebesar 30% atau 12 siswa;
4. Aspek kelancaran sebesar 27,5% atau 11 siswa; dan
5. Aspek keberanian sebesar 32,5% atau 13 siswa.
Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat dikatakan bahwa kemampuan berbicara siswa kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto pada tingkat yang cukup. Dalam hal tersebut, jika tingkat kemampuannya dipahami secara potensial berarti bahwa kemampuan berbicara Siswa Kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto memberikan peluang untuk dikembangkan ke tingkat yang lebih baik.
3.2 Siklus II
Dengan adanya perbaikan yang begitu berarti sehingga dapat diperoleh perubahan kemampuan berbicara Siswa Kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009 berdasarkan kualifikasi tiap aspek penilaian pada siklus II, sebagai berikut;



Kualifikasi
Aspek
Jumlah
1
2
3
4
5
Baik Sekali
-
-
-
2
3
5
Baik
19
23
18
19
20
99
Cukup
18
11
14
16
15
74
Kurang
3
6
8
3
2
22
Keterangan;
1. Kosakata
2. Kalimat
3. Intonasi
4. Kelancaran
5. Keberanian
Hasil pengamatan ini dapat diperoleh dari tabel berbicara siswa kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009 berdasarkan prosentase kualifikasi tiap aspek pada siklus I, sebagai berikut;
kualifikasi
Aspek
Rata-rata %
1
2
3
4
5
F
%
F
%
F
%
F
%
F
%
B. Sekali
-
-
-
-
-
-
2
5
3
7,5
2,5
Baik
19
47,5
23
57,5
18
45
19
47,5
20
50
49,5
Cukup
18
45
11
27,5
14
35
16
40
15
37,5
37
Kurang
3
7,5
6
15
8
20
3
7,5
2
5
11

Keterangan;
1. Kosakata
2. Kalimat
3. Intonasi
4. Kelancaran
5. Keberanian
Hasil yang dicapai pada siklus II, ada peningkatan sebagaimana tabel di atas. Kemampuan berbicara siswa kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009, sebagai berikut;
1. Secara rata-rata terdapat 2,5% siswa yang memperoleh kualitas baik sekali, dengan rincian sebagai berikut;
a. Aspek kelancaran sebesar 5% atau 2 siswa; dan
b. Aspek keberanian sebesar 7,5% atau 3 siswa.
2. Secara rata-rata terdapat 49,5% siswa yang memperoleh kualitas baik, dengan rincian aspek-aspek penilaian, sebagai berikut;
a. Aspek kosakata sebesar 47,5% atau 19 siswa;
b. Aspek kalimat sebesar 57,5% atau 23 siswa;
c. Aspek intonasi sebesar 45% atau 18 siswa;
d. Aspek kelancaran sebesar 47,5% atau 19 siswa; dan
e. Aspek keberanian sebesar 50% atau 20 siswa.

3. Secara rata-rata terdapat 37% siswa yang memperoleh kualitas cukup, dengan rincian aspek-aspek penilaian, sebagai berikut;
a. Aspek kosakata sebesar 45% atau 18 siswa;
b. Aspek kalimat sebesar 27,5% atau 11 siswa;
c. Aspek intonasi sebesar 35% atau 14 siswa;
d. Aspek kelancaran sebesar 40% atau 16 siswa; dan
e. Aspek keberanian sebesar 37,5% atau 15 siswa.
4. Secara rata-rata terdapat 11% siswa yang memperoleh kualitas kurang, dengan rincian aspek-aspek penilaian, sebagai berikut;
a. Aspek kosakata sebesar 7,5% atau 3 siswa;
b. Aspek kalimat sebesar 15% atau 6 siswa;
c. Aspek intonasi sebesar 20% atau 8 siswa;
d. Aspek kelancaran sebesar 7,5% atau 3 siswa; dan
e. Aspek keberanian sebesar 11% atau 2 siswa.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus II dapat dikatakan bahwa kemampuan berbicara Siswa Kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto berada pada tingkat yang baik. Dari dua proses pembelajaran yang telah dilaksanakan ada perbedaaan hasil yang signifikan yaitu sebesar 27,5% siswa memperoleh nilai minimal 75.


3.3 Hasil Tindakan
Dari dua siklus yang dilakukan ternyata ada perbedaan peningkatan hasil. Peningkatan hasil proses pembelajaran dengan menggunakan strategi cooperative learning yang dipandu dengan teknik JIGSAW ternyata lebih banyak daripada proses pembelajaran yang tidak menggunakan strategi tersebut. Hal ini terbukti pada siklus I siswa yang memperoleh nilai ninimal 75 sebesar 25% atau 10 siswa. Sedangkan pada siklus II siswa yang memperoleh nilai minimal 75 sebesar 52,5% atau 21 siswa. Sehingga ada peningkatan yang signifikan sebesar 27,5% atau 11 siswa yang memperoleh nilai minimal 75.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dikatakan bahwa kemampuan berbicara Siswa Kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009 semester ganjil pada tingkat yang baik. Sehingga memberikan peluang untuk dikembangkan ke tingkat yang lebih minimal dipertahankan.


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Dengan menerapkan teknik JIGSAW dalam Kegiatan Belajar Mengajar, sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara siswa;
2. Dengan kegiatan tindak lanjut nilai rata-rata seluruh siswa dalam kelas tersebut mengalami peningkatan;
3. Proses pembelajaran dengan menerapkan teknik JIGSAW akan lebih menarik perhatian dan siswa tidak merasa bosan, dan
4. Kemampuan berbicara Siswa Kelas 8A SMP Negeri 2 Kota Mojokerto Tahun Pelajaran 2008/2009 dalam kualifikasi baik.
4.2 Saran-saran
Saran-saran ini peneliti tujukan kepada guru bahasa dan sastra Indonesia khususnya, dan kepada guru lain pada umumnya, serta kepada semua pembaca dan peneliti selanjutnya. Agar dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengajar bahasa dan sastra Indonesia, sebagai berikut;
1. Guru hendaknya meningkatkan motivasi kepada siswa;
2. Teknik JIGSAW membutuhkan alokasi waktu yang cukup, hendaknya digunakan pada pokok bahasan yang membutuhkan banyak penalaran;
3. Guru hendaknya tidak hanya menekankan aspek teorinya saja, tetapi lebih menekankan pada aspek keterampilan atau praktik;
4. Guru hendaknya melatih siswa sejak dini agar siswa berani berbicara di depan kelas; dan
5. Mengingat pentingnya tindak lanjut dalam proses belajar mengajar, maka kegiatan perbaikan dan pengajaraan harus terprogram dan tersusun secara sistematis untuk peningkatan kualitas.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 1993. Proses Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Reneka Cipta
Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Kontextual Teaching Teacling). Jakarta: Depdiknas
Depdiknas. 2004. Pedoman Nilai Kelas. Jakarta: Depdiknas
Furchan, Arief. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha nasional
Parera, Daniel. Jos Daniel. 1984. Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga
Tarigan, Henri Guntur. 1981. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Tjipto Utomo B Kess Ruijiter. 1991. Peningkatan dan Pengembangan Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia
Rooijekters. 1991. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: PT. Gramedia
Rostiyah N. K. 1989. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Reneka Cipta
Sanafiah, Faisal, dan Mulyadi. 1992. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasution
Suprayekti. 2004. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdiknas









Tidak ada komentar: